Bangunan Hermeneutika Hasan Hanafi

Bangunan Hermeneutika Hasan Hanafi

Bangunan Hermeneutika Hasan Hanafi

Bangunan Hermeneutika Hasan Hanafi

Hanafi membangun sebuah metode Hermeneutika dengan mengusung kolaborasi antara disiplin keilmuan dari khazanah Islam klasik dan tradisi intelekual barat. Yaitu Ushul al-Fiqh, Hermeneutika, fenomenologi, dan Marxisme.

Keterkaitan Ushul al-Fiqh terutama konsep Asbab an-Nuzul, nasikh-mansukh, danmashlahah sebagai bagian dari hermeneutika, adalah untuk menunjukkan betapa pentingnya relasi wahyu dan realitas. Asbab an-Nuzul oleh Hanafi dimaksudkan untuk menunjukkan supremasi realitas terhadap wahyu, ia berpendapat bahwa tidak ada ayat atau surat yang tanpa didahului latar belakang pewahyuan. Sekalipun latar belakang ini harus dipahami dalam pengertian yang luas, yang bisa berupa kondisi, peristiwa, atau lingkungan di dalamnya sebuah ayat diturunkan; nasikh-mansukh  menunjukkan gradualisme dalam penetapan aturan hukum, eksistensi wahyu dalam waktu, peruahannya menurut kesanggupan manusia, dan keselaransannya dengan perkembangan kedewasaan individu dan masyarakat dalam sejarah.

Sementara konsep mashlahah merujuk pada pentingnya tujuan wahyu sebagai peristiwadalam sejarah. Menurut Hanafi, manusia mampu memahami peristiwa-peristiwa yang dapat menimbulkan lahirnya wahyu atau dalam peristiwa di mana wahyu menjadi signifikan dan secara bersamaan disepakati masyarakat (ijma’) sebagai kepentingan bersama (mashlahah).

Dalam kerangka hermeneutik berikutnya, Hanafi menerima pandangan Hans-George Gadamer bahwa setiap pembaca (penafsir), dalam melakukan interpretasi harus berangkat dari asumsi-asumsi awal, horizon, wawasan dan pengaruh-pengaruh intern pada dirinya yang bersumber dari berbagai pengalaman-pengalaman intelektualnya,  tahap ini disebut sebagai prapemahaman dalam proses interpretasi.

Dengan demikian, menurut Hanafi, suatu  pemahaman terhadap teks  tidak dapat mengabaikan historisitas penafsiran. Setiap teks berangkat dari prapemahaman tertentu, pemahaman akan kebutuhan dan kepentingan penafsir dalam teks. Penafsir adalah kegiatan produktif dan bukan reproduksi makna. Bukan hanya karena makna awal sulit ditemukan, tetapi juga karena makna awal tersebut tidak akan relevan lagi karena telah kehilangan konteks ekstensialnya. Dengan kata lain, kalaupun makna awal berhasil ditemukan, ia bukanlah pendasaran makna, namun hanya merefleksikan adanya kaitan antara teks dan realitas, bahwa teks ataupun penafsiran selalu memiliki nilai historis tersendiri.

Metode yang mempengaruhi pemikiaran Hanafi selanjutnya adalah fenomenologi. Sebuah metode yang sangat berguna untuk mempertajam analisis terhadap realitas, dalam hal ini realitas yang dimaksud Hanafi adalah relitas ekonomi, politik, khazanah Islam, sekaligus realitas tantangan peradaban Barat. Dengan metode ini realitas dunia Islam diharapkan mampu berbicara bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain fenomenologi memberikan sebuah analisis Islam alternatif yang dapat menghindarkan semangat metafisis yang menurut Hanafi tidak relevan untuk menggambarkan realitas manusiawi dan Ilahi.

Dari segi metodologis, pengaruh marxisme begitu kental dalam hermeneutiknya, hal ini bisa dilihat dari pemikirannya yang senantiasa mengaitkan hermeneutika pada “praksis” dalam hubungan antara interpretasi dengan realitas. Dalam Marxisme klasik dikenal filsafat bernalar dan materialisme historis. Dalam upaya untuk menajamkan kritik terhadap realitas dan pengujian teks pada realitas, Hanafi banyak meminjam instrumen Marxisme, khususnya metode dialektika.

Peran marxisme ini pada gilirannya akan menemukan pisau analisis yang tajam tentang masyarakat dan realitas yang menjadi tujuan hermeneutiknya. Dalam pandangan Hanafi, jika metode (Marxisme) ini diterapkan makan akan menemukan kesejajaran antara teks dan realitas. Jika teks memiliki struktur ganda: kaya-miskin, penindas-tertindas, kekuasaan-oposisi, demikian halnya dengan sifat dasar teks. Struktur teks yang bersifat ganda tersebut kemudian melahirkan hermeneutika progresif dan konservatif. Hermeneutika konservatif beranjak dari teks, mendasarkan diri pada makna literal dan makna otonom, dan aturan yang didasarkan pada realitas yang diandaikan, dan menganggap teks sebagai nilai per se. Sementara hermeneutika progresif menganggap teks sekedar alat, kehidupan nyata (justru) adalah nilai absolut yang perlu diperhatikan

sumber :

Death Shooter 4 : Mission Impossible 1.0.0 Apk for android