HUBUNGAN SKI DENGAN SISTEM LAIN

 HUBUNGAN SKI DENGAN SISTEM LAIN

Sistem Komunikasi Indonesia (SKI) adalah sebuah sistem yang tidak bisa berdiri sendiri. Ia terkait erat dengan sistem lainnya. Secara umum hubungan antara sistem komunikasi dengan sistem lain adalah sebagai berikut:

  1. Sistem komunikasi dipengaruhi oleh sistem sosial. Sistem sosial adalah sebuah bangunan sistem yang besar yang di dalamnya mempunyai beberapa subsistem, termasuk sistem komunikasi itu sendiri. Sedangkan sistem komunikasi bersama sistem lain yang merupakan bagian sistem sosial mendukung eksistensinya secara bersama-sama. Misalnya sistem ekonomi, sistem budaya, sistem politik, mendukung dan memberi arti keberadaan sistem sosialnya. Sistem sosial yang mengedepankan budaya feodalisme atau paternalisme akan mempengaruhi proses komunikasi. Ini juga berlaku bagi sistem sosial yang mengedepankan sistem kepercayaan. Di Jawa, misalnya, dikenal nilai  ewuh pakewuh atau sungkan. Kenyataan ini termanifestasikan dalam sistem komunikasi. Bentuknya, orang akan merasa ‘tidak enak untuk mendahului atasan’ apalagi bila harus mengeritiknya.
  2.  Sistem komunikasi dipengaruhi oleh sistem politik. Dalam praktik politik, sistem komunikasi akan dipengaruhi oleh keberadaan sistem politik. Sistem politik yang demokratis, misalnya, akan memberi peluang proses komunikasi (dalam sistem komunikasi) yang demokratis pula. Sebaliknya, sistem politik yang otoriter akan membuat sistem komunikasi otoriter pula. Sebab, proses komunikasi yang dikembangkan jelas hanya ditentukan oleh penguasa dan berjalan top down. Hal  ini terjadi akibat pengaruh sistem politik yang memungsikan pola seperti itu.
  1. FUNGSI-FUNGSI SISTEM KOMUNIKASI

Membahas fungsi sebuah sistem (termasuk sistem komunikasi) tidak terlepas dari fungsi-fungsi input dan output. Input adalah masukan, sedangkan output adalah keluaran.

Input berasal dari lingkungan sistem lain. Dalam input ditemukan data, bahan, informasi, peristiwa untuk dijadikan ‘bahan mentah’ bagi proses komunikasi. Bagi pemerintah, fungsi input berguna dalam menghasilkan kebijakan yang sudah diolah dalam sistem komunikasi setelah terjadi proses atau menghasilkan keluaran kebijakan.

Adapun output merupakan hasil atau konsekuensi dari bekerjanya sistem komunikasi yang mempunyai arti penting bagi masyarakat. Dalam output nanti akan diperoleh sikap apatis (apathy) atau reward (ganjaran) masyarakat. Kebijakan yang tidak baik  tentu akan menimbulkan dampak berupa sikap apatis masyarakat. Apatis atau ganjaran tersebut nantinya menjadi suatu bahan, peristiwa, informasi bagi input, dan begitu seterusnya sebagai suatu proses yang tak pernah berhenti. Suatu sistem akan mati jika tidak proses terus menerus.[7]

 

sumber :

https://nashatakram.net/layanan-otomotif-seva-id/