Keunikan Kata Salam dalam Al Quran

Keunikan Kata Salam dalam Al Quran

Keunikan Kata Salam dalam Al Quran

Keunikan Kata Salam dalam Al Quran
Keunikan Kata Salam dalam Al Quran

Firman Allah SWT

Di dalam Surat Maryam ayat 15 Allah berucap salam kepada Nabi Yahya a.s. sebagai berikut:
“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”
sementara dalam ayat yang berbeda, Allah berucap salam kepada Nabi Isa a.s. melalui lisan Nabi Isa sendiri. Ini tercantum dalam surat yang sama ayat 33:
“Dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Pada ayat yang pertama Allah menggunakan kata salam dengan bentuk indefinitif atau nakirah sementara pada ayat kedua Allah menggunakan kata salam dengan bentuk marifat atau definitif. Di samping itu, Allah mengkaitkan kata salam dengan hari kelahiran, hari kematian, dan hari kebangkitan.

Apakah sebenarnya rahasia di balik salam Allah kepada Nabi Yahya dalam bentuk nakirah, dan salam kepada Nabi Isa melalui lisannya sendiri dalam bentuk marifat ini? Manakah yang lebih utama, dan mengapa salam ini dikaitkan dengan hari kelahiran, hari kematian, dan hari kebangkitan? Hikmah apakah di balik semua ini?

Kita tahu bahwa setiap kaum punya bentuk penghormatan tersendiri yang mereka gunakan untuk menghormati satu sama lain. Cara penghormatan kaum Nasrani adalah dengan meletakkan tangan di mulut. Orang-orang Yahudi memberi isyarat dengan jari. Penghormatan kaum Majusi dilakukan dengan berpaling dan melirik ke arah Timur. Sementara itu, orang-orang Persia memberikan hormat dengan berkata, “Semoga Anda hidup seribu tahun.”

Zaman Jahiliyyah

Pada jaman jahiliah, orang-orang Arab memberi penghormatan pada raja mereka dengan mengatakan, “An’im shabahan” atau “An’im masa’an” untuk menyatakan selamat pagi dan selamat sore. Ada pun salam penghormatan terhadap sesama, mereka lakukan dengan menggunakan ungkapan hayyakallah dan terkadang ditambah menjadi hayyakallah wa bayyaka yang berarti, Semoga Allah memanjangkan usiamu dan menyiapkan tempat yang baik bagimu. Oleh karena semua ini, maka salam disebut tahiyyat, suatu bentuk taf’ilah dari kata hayat, seperti halnya kata takrimah dari karamah.

Setelah Islam datang, salam penghormatan di jaman jahiliah itu diganti dengan ungkapan assalamu alaikum, yang selanjutnya ungkapan ini disyariatkan bagi umat Islam dan digunakan untuk menghormati Muslim yang satu dengan lainnya.

Rasul kemudian menganjurkan agar bentuk salam ini disebar-luaskan dan digunakan kepada setiap orang, baik yang sudah kita kenal atau belum. Salam kaum Muslimin ini membuat bentuk salam-salam lainnya menjadi tidak populer lagi di kalangan umat Muslim. Ia mengungguli bentuk salam yang sifatnya mustahil seperti, “Semoga anda hidup seribu tahun,” atau ungkapan yang mempunyai makna sempit seperti, “Selamat Pagi”. Assalamualaikum memuat dua makna suci, berzikir kepada Allah, dan permohonan keselamatan serta perlindungan bagi orang yang disalami. Abdullah bin Salam meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Wahai umat manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makanan, kuatkan silaturahim, shalatlah ketika orang lain sedang lelap tertidur. Dengan begitu, kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR Al-Tirmidzi).

Ketika surga menjadi negeri keselamatan yang terhindar dari cela, keburukan, dan penyakit, bahkan dapat memberi keselamatan dari segala yang dapat mengganggu kehidupan, maka penghormatan bagi penghuninya adalah ‘salam.’ Ini ditunjukkan oleh firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 23:
“Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah “salaam.”

Penjelasan

Dengan demikian, penghormatan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman pada Hari Kiamat adalah ‘salam.’ Itulah yang telah ditetapkan Allah dalam firrnan- Nya di surat Al-Ahzab ayat 44:
“Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah Salam dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.”

Di dalam surat Yasin ayat 58 dan Al- Ra’d ayat 24-25 Allah juga mengulang- ulang kata salam ini sebagai sanjungan bagi orang-orang saleh ketika kelak mereka bertemu Allah. Mereka telah menjalani hidup yang baik selama di dunia, dan oleh karena itu mereka dijanjikan tempat- tempat yang penuh kenikmatan. Mereka akan selamat dari murka dan siksa Allah. Bukankah kata salam sendiri berkonotasi dengan keselamatan?

Kembali kepada pertanyaan di awal tulisan ini, mengapa kepada Nabi Yahya kata salam dipakai dalam bentuk nakirah dan kepada Nabi Isa digunakan bentuk marifat serta dikaitkan kata salam ini dengan hari kelahiran, hari kematian dan hari kebangkitan. Ditinjau dari sisi bahasa, penggunaan nakirah pada kata salam kepada Nabi Yahya menunjukkan keutamaan Nabi ini. Salam yang disampaikan kepada Nabi Yahya lebih sempurna dan utama dari salam yang disampaikan kepada Nabi Isa. Bentuk nakirah kepada Nabi Yahya disertai dengan sifat kesempurnaan Allah.

Hasan r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Yahya dan Nabi Isa pernah bertemu. Ketika itu, Nabi Yahya berkata kepada Nabi Isa, “Mohonkanlah ampunan untukku, sebab engkau lebih baik dariku.” Nabi Isa menjawab permintaan ini, “Aku menyalami diriku sendiri, sementara engkau disalami langsung oleh Allah.”

Sehubungan dengan dikaitkannya salam dengan hari kelahiran, hari kematian dan hari kebangkitan, Ibnu Qayyim memberikan ulasan sebagai berikut, “Meminta keselamatan sangat diperlukan, terutama pada saat-saat terjadi kerusakan atau kesedihan. Setiap kali kondisi itu mengharuskan untuk meminta salam, maka sangat dianjurkan pula untuk memohon keselamatan. Karena itu, disebutlah ketiga waktu itu. Pada saat itu, seorang hamba beralih dari suatu negeri ke negeri yang sedang dihadapkan pada ujian, musibah, dan bencana.”

Kesimpulan

Demikianlah kehebatan bahasa Al Quran sebagai salah satu mukjizat terbesar. Di dalamnya terkandung berbagai persoalan bahasa dan satra yang tak mungkin dapat ditiru oleh pakar bahasa mana pun juga. Keistimewaan ini hanya milik Allah, diwahyukan kepada Rasul pilihan bernama Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umat Muslimin di seluruh muka bumi.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/