Latar Belakang Pemerintahan Utsman bin Affan

Latar Belakang Pemerintahan Utsman bin Affan

Latar Belakang Pemerintahan Utsman bin Affan

Latar Belakang Pemerintahan Utsman bin Affan
Latar Belakang Pemerintahan Utsman bin Affan

Dalam masa pemerintahan Ustman bin Affan

terdapat beberapa masalah pelik yang harus segera dituntaskan, termasuk diantaranya pencatatan ulang al-Qur’an untuk kedua kalinya. Meluasnya wilayah di bawah pimpinan Khalifah Umar sebelumnya memberi peluang kepada para sahabat untuk berbondong-bondong mendatangi daerah penaklukan untuk memgajarkan Islam dan membaca al-Qur’an. Ataupun banyak diutus seorang pengajar ke daerah baru di wilayah Islam baik ketika di bawah pimpinan Khalifah Umar maupun di bawah pemerintahan Ustman bin Affan.

Ada akibat lain yang ditimbulkan dari pengajaran baik oleh sebagian sahabat maupun pengajar lainnya, yaitu berbedanya cara membaca al-Qur’an, sehingga pada akhirnya ejekan itu semakin meruncing dan tidak jarang saling mengkafirkan satu sama lainnya. Akibatnya sering terjadi perselihan antara murid seseorang dengan murid lainnya karena masing-masing berbeda dalam membaca al-Qur’an.

Sebenarnya para sahabat sendiri yang melihat langsung Nabi baik cara membacanya maupun menyaksikan wahyu, sudah biasa dan mengerti bahwa al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf (tujuh macam qira’ah) dan mereka menegerti bahwa semuanya bersumber dari ajaran Nabi sendiri, Sehingga tidak ada perselisihan diantara mereka mengenai keragaman bacaan al-Qur’an ini.

Namun ketika meluasnya daerah Islam, diantaranya ditaklukannya Armenis dan Azerbijan (Asia Tengah), dan mulainya bangsa Ajam (non Arab) memeluk Islam. Timbulah masalah baru, bahwa mereka adalah generasi yang tidak pernah bertemu dengan Nabi. Dan ketika mereka belajar al-Qur’an mereka menganggap bahwa bacaan al-Qur’an itu hanya satu. Akibatnya ketika mereka menemui bacaan berbeda selain dari yang mereka pelajari, timbulah perbedaan pendapat. Karena masing-masing pihak menganggap bahwa bacaanya lah yang paling benar. Tidak jarang mereka saling mengkafirkan dan tidak sedikit berujung pada pertengkaran.

Baca Juga: