Menggali dan Merumuskan Hipotesis

Menggali dan Merumuskan Hipotesis

Menggali dan Merumuskan Hipotesis

Menggali dan Merumuskan Hipotesis
Menggali dan Merumuskan Hipotesis

Berikut ini akan dijelaskan tentang cara menggali dan merumuskan Hipotesis yang dijelaskan oleh para ahli.

Nazir (2005: 154)

Ia menyatakan bahwa menemukan suatu hipotesis merupakan kemampuan si peneliti dalam mengaitkan masalah-masalah dengan variabel-variabel yang dapat diukur dengan menggunakan suatu kerangka analisis yang dibentuknya. Menggali dan merumuskan hipotesis mempunyai seni tersendiri. Si peneliti harus sanggup memfokuskan permasalahan sehingga hubungan-hubungan yang terjadi dapat diterka. Menurut Nazir (2005: 154) dalam menggali hipotesis, si peneliti harus:

1. Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan;
2. Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat- tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki;
3. Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.

Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial yang telah cukup berkembang seperti ilmu ekonomi misalnya, perumusan hipotesis dimulai dengan pembentukan kerangka analisis. Kerangka analisis ini biasanya dinyatakan dalam model matematika. Hipotesis- hipotesis dikaitkan dengan model matematika tersebut, yang kemudian diuji dengan menggunakan data empiris.

Goode dan Hatt (Nazir, 2005: 155)

Ia memberikan empat buah sumber untuk menggali hipotesis, yaitu:
1. Kebudayaan di mana ilmu tersebut dibentuk.
2. Ilmu itu sendiri yang menghasilkan teori, dan teori memberikan arah kepada penelitian.
3. Analogi juga merupakan hipotesis. Pengamatan terhadap jagad raya
yang serupa atau pengamatan yang serupa pada ilmu lain merupakan sumber hipotesis yang baik. Mengamati respons berat hewan terhadap makanan, memberikan analog tentang adanya respons tanaman terhadap zat hara. Darinya dapat dirumuskan hubungan antara tumbuhan dengan zat hara dalam tanah.
4. Reaksi individu dan pengalaman. Reaksi individu terhadap sesuatu, ataupun pengalaman-pengalaman sebagai suatu konsekuensi dari suatu fenomena dapat merupakan sumber hipotesis. Reaksi tanaman terhadap pestisida, reaksi ayam terhadap suntikan suatu obat dapat merupakan sumber hipotesis.

Good dan Scates (Nazir, 2005: 155)

Pendapat lainnya mengenai sumber hipotesis diungkapkan oleh Good dan Scates (Nazir, 2005: 155). Ia memberikan beberapa sumber yang dapat digunakan untuk menggali hipotesis, yaitu:
1. Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam tentang ilmu.
2. Wawasan serta pengertian yang mendalam tentang suatu wawasan.
3. Imajinasi atau angan-angan.
4. Materi bacaan dan literatur.
5. Pengetahuan tentang kebiasaan atau kegiatan dalam daerah yang sedang diselidiki.
6. Data yang tersedia.
7. Analogi atau kesamaan.

Nazir (2005: 156) menyatakan bahwa merumuskan hipotesis bukanlah hal yang mudah. Seperti telah disinggung, sekurang-kurangnya ada tiga penyebab kesukaran dalam memforumlasikan hipotesis, yaitu:
1. Tidak adanya kerangka teori atau pengetahuan tentang kerangka teori yang terang.
2. Kurangnya kemampuan untuk menggunakan kerangka teori yang sudah ada, dan
3. Gagal berkenalan dengan teknik-teknik penelitian yang ada untuk dapat merangkaikan kata-kata dalam membuat hipotesis secara benar.

Hipotesis dibentuk dengan suatu pernyataan tentang frekuensi kejadian atau hubungan antarvariabel. Dapat dinyatakan bahwa sesuatu terjadi dalam suatu bagian dari seluruh waktu, atau suatu gejala diikuti oleh gejala lain, atau sesuatu lebih besar atau lebih kecil dari yang lain. Bisa juga dinyatakan tentang korelasi satu dengan yang lain.
Hipotesis dapat juga menegaskan rekaan bahwa suatu ciri atau keadaan adalah satu faktor yang menentukan ciri lain atau keadaan lain. Hipotesis yang begini rupa dinamankan juga hipotesis sebag akibat atau hipotesis kausal. Misalnya suatu hipotesis yang menyatakan bahwa pengalaman waktu balita merupakan determinan personalitas waktu biasa.

Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian. Oleh karena itulah maka peneliti dituntut kemampuannya untuk dapat merumuskan hipotesis ini dengan jelas.

Borg dan Gall (Arikunto, 2002: 66)

Ia mengajukan adanya persyaratan untuk hipotesis, yaitu:
1. Hipotesis harus dirumuskan denga singkat tetapi jelas.
2. Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua atau dua lebih variabel.
3. Hipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan.
Margono (2004: 68) memberikan pedoman yang dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis. Pedoman tersebut yaitu:

1. Hipotesis dinyatakan sebagai hubungan antara ubahan-ubahan.
2. Hipotesis dinyatakan dalam kalimat pernyataan.
3. Hipotesis dapat diuji kebenarannya, atau peneliti dapat mengumpulkan data untuk menguji kebenarannya.
4. Hipotesis dirumuskan dengan jelas.

Baca Juga: