Modernitas

Modernitas

Modernitas

Modernitas
Modernitas zaman modern di Eropa ditandai oleh hilangnya lembaga-lembaga politik warisan abad Pertengahan. Orthodoxy dominan dalam masyarakat, yaitu kalangan bangsawan dan agamawan, sementara itu, pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan ikut mengubah cara hidup (way of life) manusia secara drastis (Rifyal Ka’bah, “Modernisme dan Fundamentalisme Ditinjau dari Konteks Islam”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an (nomor 1, Volume V Tahun 1994), hlm. 25.).
Modernitas yang muncul di Barat pada dasarnya berintikan pandangan dunia, weltanschauung, yang berorientasi pada kemajuan. Modernitas adalah upaya untuk bisa keluar dari era kegelapan Barat Abad Pertengahan. Proyek modernitas yang bermuara pada kapitalisme dan individualisme serta kebangkitan Barat terangkum dalam apa yang disebut grand-narrative, misalnya, bahwa pengetahuan senantiasa bersifat obyektif, netral, bebas nilai; bahwa manusia merupakan subyek, sementara alam menjadi obyek; bahwa pengetahuan kita terhadap realitas adalah positif.

3.      Demokrasi

Walaupun istilah demokratis telah dikenal sejak abad ke-5 Masehi sebagai respons terhadap pengalaman buruk monarki dan kediktatoran di negara-negara kota Yunani Kuno, namun ide-ide dekorasi modern baru berkembang dimulai pada abad ke-16 Masehi. Tradisi tersebut adalah ide-ide skularisme yang diprakarsai oleh Niccolo Machiavelly (1469-1527) (Masykuri Abdillah, Demokrasi di Persimpangan Makna: Respons Intelektual Muda Muslim Indonesia terhadap Konsep Demokrasi (1966-1993) (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999), hlm. 71-72.)
sumber :