Pemikiran Dan Sistematika Hermeneutik Hasan Hanfi

Pemikiran Dan Sistematika Hermeneutik Hasan Hanfi

Pemikiran Dan Sistematika Hermeneutik Hasan Hanfi

Pemikiran Dan Sistematika Hermeneutik Hasan Hanfi

Manurut Hanafi, ada dua perbedaan terbesar yang substansial antara hermeneutika Barat dengan Islam. Dalam hermeneutika Yunani dan Kristen Barat, tugas Rasul (Tuhan Hermes/Christ) adalah menerjemahkan pesan Tuhan kepada umat manusia. Begitu pula, dalam tradisi Islam, Malaikat Jibril (Roh Kudus) tidak mempunyai hak untuk menerjemahkan wahyu teks Allah, karena dia hanya seorang mediator antara dia dengan Nabi Muhammad Saw.

Menurut Hanafi, dengan “kesadaran yang netral” Jibril mendiktekan wahyu Allah. Hanafi menegaskan, “i authenticite de I information”, “depend de la neutralite de la consience du rapporteur.”. pada gilirannya, seperti Jibril, Nabi Muhammad Saw harus mengadopsi kesadaran netral (al-wa’yu) dalam menyampaikan ayat-ayat Tuhan. Seperti kitab suci lainnya, Al-Quran adalah sebuah teks kuno bagi pembacanya, dan oleh karena itu diperlukan permasalahan psikologis (yakni, permasalahan menjembatani perbedaan budaya dan waktu antara pengarang dengan pembacanya).

             Dalam pendekatan fenomenologi Hanafi, hermeneutika adalah ilmu yang menentukan relasi antara kesadaran dengan obyeknya, yakni kitab suci.  Hermeneutik Hasan hanafi dibangun dari berbagai pengandaian dalam fenomenologi dan Marxisme, dua mazhab pemikiran dengan paradigma yang bertolak belakang yang ia sintesakan ke dalam disiplin dan pendirian hermeneutika filosofis.[4]

Di sini Hasan Hanafi menyaratkan beberapa langkah sistemik dalam merealisasikan hermeneutikanya yaitu:

Pertama, merumuskan komitmen sosial politik. Bagi Hanafi, seorang penafsir bukanlah orang yang netral, karena ia berada hidup dalam lingkaran peristiwa di suatu negara termasuk berbagai krisis di dalamnya. Oleh sebab itu, ia harus menempatkan diri pada kelompok yang tertindas dan minoritas. Dengan begitu seorang penafsir diharapkan menjadi reformis, aktor soisal, dan revolusioner.

Kedua, mencari sesuatu. seorang mufasir semestinya sudah mempunyai tema tertentu yang ingin ia ketahui sebelum memulai penafsiran. Dengan kata lain, kegiatan interpretasi tidak lain bertujuan untuk mencari sebuah solusi atas suatu masalah.

Ketiga, mensipnosis ayat-ayat yang berkaitan dengan tema-tema tertentu. Ayat-ayat yang berhubungan dengan tema tertentu tersebut dikumpulkan dengan teliti, dibaca secara simultan, lalu dipahami berulang-ulang sampai orientasi umumnya dapat ditemukan.

Keempat, mengklasifikasi bentuk-bentuk linguistik. Sebab melalui analisis linguistik orientasi suatu makna dapat diketahui.

Kelima, membangun struktur yang ideal. Setelah orientasi makna didapatkan, penafsir berusaha membangun suatu struktur, berangkat dari makna menuju suatu objek.

Keenam, menganalisis situasi faktual. Yaitu menghubungkan dengan situasi nyata, misalnya situasi negara yang dilanda keterpurukan kekuasaan, kesejahteraan, hak asasi manusia, dan sebagainya.

Ketujuh, membandingkan yang ideal dengan yang riil (kondisi realitas).

Kedelapan, mendeskripsikan model-model aksi. Setelah ditemukan adanya kesenjangan antara dunia ideal dengan dunia riil, maka aksi sosial merpakan langkah paling penting dari proses interpretasi. Dengan demikian penafsir harus mampu mentransformasikan diri dari teks ke aksi.[5]

III. Kesimpulan

Hassan Hanafi lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, Dia merupakan seorang pemikir Hukum Islam dan professor filsafat terkemuka di Mesir yang menguasai tiga bahasa sekaligus: Arab, Prancis, dan Inggris

Sejauh ini, sebuah metode yang dinamakan “hermeneutika” menjadi sangat ramai dalam pembahasan sebagai bahan interpretasi pada sebuah teks.

Hanafi merupakan pemikir muslim radikal dan kritis baik terhadap gerakan Islamis maupun Barat yang mencoba mendominasi Islam. Oleh karena itu, dia berusaha merekonstruksi pemikiran Islam ke arah yang dapat membebaskan umat Islam dari segala bentuk penindasan.

Hanafi membangun sebuah metode Hermeneutika dengan mengusung kolaborasi antara disiplin keilmuan dari khazanah Islam klasik dan tradisi intelekual barat. Yaitu Ushul al-Fiqh, Hermeneutika, fenomenologi, dan Marxisme.

Menurut Hanafi, dengan “kesadaran yang netral” Jibril mendiktekan wahyu Allah. Hanafi menegaskan, “i authenticite de I information”, “depend de la neutralite de la consience du rapporteur.”. pada gilirannya, seperti Jibril, Nabi Muhammad Saw harus mengadopsi kesadaran netral (al-wa’yu) dalam menyampaikan ayat-ayat Tuhan.

sumber :

Prune 1.1.3 Apk + Mod for android