PENERAPAN IFRS DAN HUBUNGANNYA DENGAN KOMPARABILITAS

PENERAPAN IFRS DAN HUBUNGANNYA DENGAN KOMPARABILITAS

PENERAPAN IFRS DAN HUBUNGANNYA DENGAN KOMPARABILITAS

PENERAPAN IFRS DAN HUBUNGANNYA DENGAN KOMPARABILITAS

Hasil Penelitian:

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2011-2013 yaitu berjumlah 139 perusahaan. Perusahaan yang menyediakan laporan keuangan untuk tahun 2011-2013 serta memenuhi kriteria sampel yaitu sebanyak 109 perusahaan per tahun. Total data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 327 pengamatan (109 perusahaan x 3 tahun).

Nilai rata-rata (mean) DISCL adalah 0,5224 yang berarti dalam satu periode laporam keuangan, perusahaan telah mengungkapkan sebanyak 52,24% item pengungkapan aset tetap konvergensi IFRS.

Pada tabel 4., 327 pengamatan yang diolah menunjukkan bahwa 205 perusahaan atau sebesar 62,7% perusahaan sampel memiliki selisih indeks pengungkapan perusahaan yang bersangkutan dengan indeks pengungkapan perusahaan terbaik lebih besar dari median.

Adapun kondisi sebaliknya ditunjukkan oleh 112 perusahaan atau sebesar 37,3% perusahaan sampel:

1. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mendeteksi apakah dalam model regresi distribusi data normal atau tidak, dapat dilihat pada grafik normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif data normal.

2. Uji Multikolinieritas

Dari tabel dapat diketahui bahwa nilai tolerance semua variabel mendekati angka 1 dan nilai VIF tidak lebih dari 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terdapat multikolinearitas dan model regresi layak untuk dipakai.

3. Uji Heteroskedastisitas

Dari gambar grafik scatterplot diatas terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak terjadi heteroskedastisitas.

4. Uji Autokorelasi

Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai Durbin-Watson sebesar 1,799. Nilai sigifikansi tersebut berada antara dU (1,7616) dan 4 – dU yaitu 2,2384. Dengan demikian menunjukkan bahwa model regresi tersebut sudah bebas dari masalah autokorelasi.

Analisis Regresi:

Berdasarkan hasil uji analisis regresi linier di atas, maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :

DISCL = 0,445 + 0,92(IDH) + 0,28(IFRS1) + 0,33(IFRS2) – 0,30(IDH*IFRS1) – 0,38(IDH*IFRS2) + 0,001(SIZE) + 0,14(ROA) + 0,002(LnSCALEDB) + 0,000 LnLEV + e

5. Uji Hipotesis

Koefisien Determinasi (R2)

Pada tabel 8 menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi yang ditunjukkan dari nilai adjusted R2 sebesar 0,775. Hal ini berarti bahwa 77,5% variasi indeks pengungkapan aset tetap dapat dijelaskan secara signifikan oleh variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu IDH, variabel interaksi IDH*IFRS1, IDH*IFRS2 dan dikontrol oleh SIZE, LnSCALEDB, ROA, LnLEV. Sedangkan sisanya sebesar 22,5% indeks pengungkapan aset tetap dapat dijelaskan oleh variabel lainnya di luar model.

6. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)

Hasil pengolahan data dari tabel di atas menunjukkan bahwa nilai F sebesar 125,877 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 lebih rendah dari 0,05. Hal tersebut berarti bahwa model regresi dalam penelitian ini dapat digunakan.

Hasil Pengujian Tingkat Komparabilitas Pengungkapan Aset Tetap Berdasarkan kedua hasil pengujian hipotesis yang telah diterangkan di atas bahwa nilai signifikansi kedua variabel interaksi (0,000 dan 0,000) lebih kecil dari 0,05 dan nilai koefisien variabel interaksi yang semakin negatif dari tahun ke tahun (IDH*IFRS1= -3,735 dan IDH*IFRS2= -4,721) maka dengan demikian disimpulkan bahwa Hipotesis diterima.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hasil uji variabel interaksi antara indeks pengungkapan awal aset tetap perusahaan dengan periode penerapan IFRS tahun pertama dan periode penerapan IFRS tahun kedua memiliki pengaruh yang signifikan negatif terhadap tingkat pengungkapan aset tetap. Hasil ini menunjukkan bahwa seiring berjalannya penerapan konvergensi IFRS ke dalam PSAK terbaru, perbedaan tingkat pengungkapan aset tetap pada laporan keuangan perusahaan semakin berkurang.

Alasan mendasar atas hal ini yang pertama adalah, dengan PSAK terbaru konvergensi IFRS, perusahaan semakin dituntut untuk mengungkapkan informasi yang lebih luas sesuai dengan persyaratan yang diwajibkan dalam standar akuntansi di Indonesia terbaru. Kedua, walaupun perusahaan dituntut untuk mengungkapkan informasi yang lebih luas, namun seiring berjalannya waktu, perusahaan semakin memahami apa yang diinginkan oleh IFRS. Sehingga, dengan PSAK terbaru konvergensi IFRS, perbedaan laporan keuangan antar perusahaan semakin kecil. Hal ini yang kemudian membuat laporan keuangan konvergensi IFRS semakin dapat dibandingkan.

Kesimpulan:

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel interaksi antara indeks pengungkapan awal aset tetap perusahaan (IDH) dengan periode penerapan IFRS tahun pertama (IFRS1) dan periode penerapan IFRS tahun kedua (IFRS2) memiliki pengaruh yang signifikan negatif terhadap tingkat pengungkapan aset tetap. Hal ini menunjukkan bahwa komparabilitas pengungkapan aset tetap pada laporan keuangan perusahaan menjadi semakin kecil seiring berlakunya konvergensi IFRS dari waktu ke waktu.

Oleh para penyusunnya, IASB, IFRS dirancang untuk menjadi standar akuntansi yang berlaku secara global. Akibatnya IFRS menjadi lebih fleksibel dan memberi keleluasaan pada akuntan untuk menggunakan pertimbangan profesional (professional judgement). Hal inilah yang menjadi kekhawatiran bahwa dengan IFRS justru akan mempersulit komparabilitas laporan keuangan dan menyuburkan manipulasi laporan keuangan. Penelitian ini telah membuktikan bahwa kekhawatiran akan berkurangnya tingkat keterbandingan (comparability) sebagai dampak berubahnya PSAK konvergensi IFRS yang kini bersifat principle-based tidak terbukti.

 

Baca Juga Artikel Lainnya: