PENGADOPSIAN IFRS 3 PADA GOODWILL DALAM KOMBINASI BISNIS (Studi Literatur)

PENGADOPSIAN IFRS 3 PADA GOODWILL DALAM KOMBINASI BISNIS (Studi Literatur)

PENGADOPSIAN IFRS 3 PADA GOODWILL DALAM KOMBINASI BISNIS

(Studi Literatur)

PENGADOPSIAN IFRS 3 PADA GOODWILL DALAM KOMBINASI BISNIS (Studi Literatur)

Hasil Penelitian:

Pengadopsian IFRS 3 ini memberikan banyak dampak dalam kombinasi bisnis. Dalam IFRS 3, goodwill lebih merujuk kepada manfaat ekonomi masa depan. Suatu asset mencerminkan manfaat ekonomi masa depan yang timbul dari aset lainnya yang diperoleh dalam kombinasi bisnis yang tidak dapat diidentifikasi secara individual dan diakui secara terpisah. PSAK 22 (reformat 2007) mensyaratkan bahwa goodwill harus diamortisasi sebagai beban selama masa manfaatnya. Namun, IFRS 3 dan PSAK 22 (revisi 2010) menetapkan bahwa goodwill tidak lagi diamortisasi melainkan diuji penurunan nilai setiap akhir periode dan nilai tercatat atas akumulasi amortisasi dieliminasi (IFRS 3: paragraf B69 d dan b dan PSAK 22 revisi 2010 paragraf 65). Untuk goodwill negatif, yang timbul tidak akan diakui lagi sebagai pendapatan yang ditangguhkan melainkan diakui sebagai keuntungan periode berjalan. Goodwill negatif terjadi ketika biaya perolehan lebih rendah daripada bagian (interest) pengakuisisi atas nilai wajar aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi (PSAK 22 reformat 2007 paragraf 46).

Pengaruh lain dalam penerapan IFRS:

tidak digunakannya lagi metode pooling of interest dan hanya akan digunakan purchasing method atau metode akuisisi. Implikasi atas ini adalah nilai goodwill yang tercatat akan lebih besar. Bitter dan Rinker menjelaskan penggunaan pooling of interest tidak lagi digunakan karena penerapannya didasarkan pada nilai buku, yang mana pencatatannya secara retrospektif (berlaku surut). Sedangkan purchasing method mencatat aset dan kewajiban perusahaan yang diakuisisi pada nilai wajar. Imbalan kontinjensi (contingent consideration) juga terpengaruh akibat penerapan IFRS 3. Hal lain yang terpengaruh atas penerapan IFRS 3 adalah mengenai biaya akuisisi. Dalam akuisisi, terjadi biaya-biaya yang berhubungan dengan biaya akuisisi seperti biaya jasa pengacara, akuntan, appraisal, dan biaya pihak ketiga yang lain (Publikasi Ernst & Young, 2008:5). Jadi, praktik sebelum IFRS diadopsi masih mengakui biaya akuisisi sebagai bagian dari kombinasi bisnis atau dengan kata lain biaya tersebut dikapitalisasi, yang perhitungan goodwill juga akan terpengaruh. Pemisahan biaya-biaya tersebut dari nilai wajar bisnis yang diakuisisi akan membuat nilai goodwill menjadi tetap atau cenderung menurun.

Kesimpulan:

Goodwill diperlakukan sebagai intangible asset dengan umur tidak terbatas dan bukan menjadi subjek amortisasi. Melainkan diuji penurunan nilainya setiap akhir periode. Dan nilai akumulasi amortisasi goodwill yang telah tercatat akan dieliminasi. Goodwill negatif tidak akan lagi diakui sebagai pendapatan yang ditangguhkan melainkan langsung sebagai keuntungan yang dicatat dalam laporan laba rugi. Tidak diperkenankannya lagi penggunaan metode pooling of interest dan disyaratkan menggunakan metode purchasing accounting. Sehingga, semua asset (termasuk goodwill) dan kewajiban dinilai pada nilai wajar. Goodwill dalam kombinasi bisnis yang dilakukan secara bertahap akan dihitung secara terpisah untuk setiap transaksi pembelian. Saat ini biaya akuisisi dihitung secara terpisah atau dengan kata lain, tidak lagi dimasukkan dalam biaya kombinasi bisnis. Biaya akuisisi akan dibebankan pada periode terjadinya. Akibatnya perhitungan goodwill akan mengalami penurunan.

Pendapat Mengenai Jurnal:

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan dapat memberikan maanfaat dan pengetahuan lebih bagi pembaca mengenai konvergensi IFRS ke dalam PSAK akan membawa pengaruh yang cukup besar bagi bisnis di Indonesia. Resensi Hal ini dikarena itu Standar akuntansi keuangan melakukan proses konvergensi secara penuh

dengan IFRS. Namun dalan jurnal ini tidak memuat tujuan penelitian, metode penelitian, dan variable apa yang digunakan. Hal tersebut disayangkan Karena dengan tidak adanya hal tersebut membuat pembaca kurang puas.