Penjelasan Istishhab

Penjelasan Istishhab

Penjelasan Istishhab

Penjelasan Istishhab
Penjelasan Istishhab

Definisi Istishhab

Istishhab secara bahasa artinya “meminta bersahabatan atau membandingkan dan mendekatkannya”
Adapun secara terminologi beberapa definisi yang disebutkan oleh para ulama Ushul Fiqih, diantaranya adalah:

1. Definisi al-Asnawy (w. 772H) yang menyatakan bahwa “(Istishhab) adalah penetapan (keberlakukan) hukum terhadap suatu perkara di masa selanjutnya atas dasar bahwa hukum itu telah berlaku sebelumnya, karena tidak adanya suatu hal yang mengharuskan terjadinya perubahan (hukum tersebut)

2. Sementara al-Qarafy (w. 486H) seorang ulama Malikiyah mendefinisikan istishhab sebagai “keyakinan bahwa keberadaan sesuatu di masa lalu dan sekarang itu berkonsekwensi bahwa ia tetap ada (eksis) sekarang atau di masa datang.
Contoh :
Dalam sebuah perkawina, setelah berlangsungnya akad nikah antara seorang perjaka dengan seorang perawan dan setelah berlangsungnya hubungan suami istri, suami mengatakan bahwa istrinya tidak perawan lagi. Tuduhan suami itu tidak dapat dibenarkan, kecuali ia dapat mengemukakan bukti-bukti yang sah dan kuat, karena seorang perawan pada dasarnya belum melakukan hubungan suami istri.oleh karena itu tuduhan dari suami bahawa ia tidak perawan lagi ketika sudah kawin.

Baca Juga: Sifat Allah

Kaidah-kaidah istishhab

1. Al-ashl baqa’ ma ala ma kana, hattayusbita ma yughyyirah

الا صل بقاء ما كان على ما كان حتى يثبت ما يغيره
Maksudnya , pada dasrnya seluruh hukum yang sudah dianggap berlaku terus sampai ditemukan dalil yang menunjukan hukum itu tidak berlaku lagi. Contohnya :
Orang yang hilang tidak bisa menerima warisan, wasiat, hibah dan wakaf, karena mereka belum di pastikan hidup. Sebaliknya harta mereka belum bisa di bagi pada ahli warinya sampai keadaan orang itu benar-benar wafat, karena penyebab adanya waris mewarisi adalah wafatnya seseorang

2. Al-ashl fi al-arsyya al-ibadah

الاصل فى الاشياء الاباحة
Maksudnya, pada dararnya dalam hal-hal yang sifatnya bermanfaat bagi manusia hukumnya adalah boleh dimanfaatkan. Melalui kaidah ini, maka seluruh akad/transaksi dianggap sah, selama tidak ada dalil yang menunjukan hukumnya batal, sebagaiman juga pada sesuatu yang tidak ada dalil syara’ yang melarangnya , maka hukumnya adalah boleh.
Al-yaqin la yuzal bil al-syak.

اليقين لايزال بالشك
Maksudnya, suatu keyakinan tidak dapat dibatalkan oleh sesuatu yang diragukan.. contohnya.:
apabila seseorang makan saur di akhir malam, dia tidak mengetahui sudah terbit fajar apa belum, dalam kasus seperti ini, maka seharusnya dilanjutkan terus dan puasanya sah, karena keyakinan bahwa hari masih malam, lebih kuat dibandingkan keraguan bahwa fajar telah terbit  Al-ashl fi al-dzimmah al-baraah min al-takalif wa al-huquq
الاصل فى الذمة البراءة من التكاليف والحقوق maksudnya, pada dasrnya seseorang tidak dibebani tanggung jawab sebelum adanya dalil yang menetapkan tanggungjawab seseorang. Oleh sebab itu, sesorang tergugat dalam kasus apa pun tidak bisa dinyatakan bersalah sebelum adanya pembuktian yang kuat dan meyakinkan bahwa ia bersalah.