PERAN SULTAN HASANUDIN DALAM PERJANJIAN BONGAYA

PERAN SULTAN HASANUDIN DALAM PERJANJIAN BONGAYA

PERAN SULTAN HASANUDIN DALAM PERJANJIAN BONGAYA

PERAN SULTAN HASANUDIN DALAM PERJANJIAN BONGAYA

Sultan Hasanuddin

sosok yang lahir dengan nama Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe ini juga memiliki julukan Haantjes van Het Oosten. Julukan ini diberikan oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan atau Ayam Jago dari Benua Timur, karena keberaniannya melawan penjajah Belanda.

Sultan Hasanuddin ini merupakan anak kedua dari Raja Gowa ke-15, yakni Manuntungi Daeng Mattola, Karaeng Lakiung yang bergelar Sultan Malikussaid dan ibunya memiliki nama Sabbe To’mo Lakuntu yang merupakan Putri bangsawan Laikang.

Sultan Hasanuddin sudah menampakkan jiwa kepemimpinan sebagai seorang pemimpin masa depan. Kecerdasan dan kerajinannya dalam belajar sangat menonjol dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Ia menempuh pendidikan di Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam di Mesjid Bontoala.

Selama kepemimpinan ayahnya Sultan Hasanudin kerap kali diajak menghadiri perundingan-perundingan penting. Hal ini agar mengajarkan Sultan Hasanuddin tentang ilmu pemerintahan, diplomasi dan strategi peperangan.

Di umur 21 tahun, Mallombasi Daeng Mattawang dinobatkan menjadi Raja Gowa ke-16 dengan gelar Sultan Hasanuddin pada bulan November 1653 menggantikan ayahnya. Sultan Hasanuddin bukan merupakan putra mahkota yang mutlak menjadi pewaris kerajaan, hal ini karena derajat kebangsawanan ibunya lebih rendah dari ayahnya. Saat memerintah, Sultan Hasanudin akan dihadapkan pada peperangan yang terjadi karena diadu domba oleh Belanda.


Sumber: https://www.twittsev.com/2020/04/24/carnivores-apk/