Periode khulafa’ al-rasyidin

Periode khulafa’ al-rasyidin

Periode kedua perkebangan pemikiran hukum islam ini bermula sejak wafatnya nabi Muhammad saw pada tahun 11 hijriyah hingga naiknya mu’awiyah ibn sufyan sebagai khalifah pada  tahun 41 hijriyah (631-662 M).

Para sahabat memainkan peranan sangat penting dalam membela dan mempertahankan agama. Demikian itu dapat dilihat dari sikap mental para sahabat nabi saw dalam menjalankan dan mengawal kemurnian ajaran-ajaran agama dalam n kehidupan. Tidak akan ditemukan perilaku dan perbuatan mereka yang tidak memiliki pembenaran al-Qur’an dan percontohan dari sunnah nabi saw. para sahabat tidak akan melakukan inovasi dalam urusan keagamaan, jika tidak memiliki landasan teologis yang memanyunginnya, baik dari al-Qur’an atau dari al-sunnah.

Yang mengemuka pada khulafa’ al-rasyidin adalah pemikiran umar ibn al-khattab ia adalah filusuf hukum islam. Ia sangat genius dalam menatap ketentuan-ketentuan hukum islam. Beliau tidak selalu berhenti pada zhahir nash, didalam jiwanya, kemudian dilaksanakan ketentuan hukum sesuai jiwa yang melandasinya.

Dalam banyak hal umar memang dikenal sebagai tokoh yang sangat bijaksanadan kreatif bahkan genius, tetapi juga penuh dengan kontroversi. Tidak semua setuju dengan umar, dari dahulu sampai sekarang, kaum syi’ah, misalnya, menolak keras ketokohan umar, khususnya kalangan ekstrem(al-ghulat) dari mereka yang moderat pun masih melihat umar hal-hal yang”menyimpang” dari agama. Seperti dikatakan oleh seorag tokoh ulama’ syi’ah , Muhammad al- Husyain al-kasfil al-gihta’, bahwa tindakan umar seperti dalam kasus ia melarang nikah mut’ah adalah semata-mata tindakan social politik yang tidak ada sangkut pautnya dengan keagamaan (madaniyan la diniyyan).

Sumber :

https://icanhasmotivation.com/sony-music-jepang-kenalkan-teknologi-interaktif-di-afa-jakarta/