Periode Sighar Sahabat dan Tabi’in

  Periode Sighar Sahabat dan Tabi’in

Periode sighar sahabat dan tabi’in ini bermula ketika pemerintahan ummat Islam beralih ke Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, tahun 41 Hijriyah yang ditandai oleh berakhirnya pergolakan politik panjang antara Mu’awiyah dan ‘Ali ibn Abi Thalib yang terakhir dengan terbunuhnya Ali, hingga awal abad kedua Hijriyah.

Seperti yang diketahui bahwa arus perjalana Islam dalam peta besarnya mengalir melalui dua pintu, yaitu politik dan ideologi. Pintu politik terbuka sepeninggal Nabi Muhammad. Drama perebutan kekuasaan dimulai di aula Bani Ksaqifah (Bani Saida) antara kubu Madinah melawan kubu Makkah non-ahl al-bayt, yang akhirnya dimenangkan oleh Abu Bakr al-Shiddiq.

Perseteruan ini berlanjut terus hingga terbunuhnya Khalifah Ustman bin Affan dan naiknya Ali. Puncak perseteruan ini ditandai dengan pecahnya perang saudara antara kubu Ali dan kubu Mu’awiyah yang dikenal dengan perang shiffin yang terjadi pada tahun 37 H.[4]

  1. Periode Tabi’ al-Tabi’in

Runtuhnya Dawlah Umayyah sekitar abad kedua Hijriyah menghembuskan angin segar terhadab dunia hukum Islam. Paling tidak, ini dapat terlihat dari perhatian khulafa Bani Abbas yang besar terhadab Hukum Islam.

Sejarah juga mencatat periode ini sebagai suatu fase dimana hukum Islam tidak sekedar berputar disekitar masalah pengambilan hukum atau fatwa sahabat, tapi telah merambah ke dalam persoalan metodologis dan kemungkinan pencarian rumusan alternatif bagi pengembangan kajian hukum Islam.

Para imam mazhab, yaitu imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Syafi’I, dan imam Ahmad ibn Hambal, masing-masing menawarkan metodologi tersendiri dan kaidah-kaidah ijtihad yang menjadikan pijakan dan landasan pengambilan hukum. Kedalaman kajian hukum Islam telah teruji dalam perjalanan sejarah cukup panjang dan dipandang cukup representatif untuk menjadi pegangan dalam beberapa masa.

Sumber :

https://obatpenyakitherpes.id/teka-teki-di-android-terbaru/