Perkebunan Kelapa Sawit

Perkebunan Kelapa Sawit

Perkebunan Kelapa Sawit

Perkebunan Kelapa Sawit

Siering dengan meningkatnya permintaan minyak sawit

domestik dan global, perkebunan kelapa sawit dalam negeri berkembang pesat. Pada tahun 1968, luas lahan hanya sekitar 120 ribu ha kemudian menjadi 294 ribu ha pada tahun 1980, menjadi 5,16 juta ha pada tahun 2005 dan menjadi 7,32 juta ha pada tahun 2009. Selain pertumbuhan lahan yang sangat luas, penyebaran perkebunan kelapa sawit yang semula hanya ada di tiga propinsi saja di Sumatera, sekarang telah tersebar di 19 propinsi di Indonesia.
Areal terluas perkebunan kelapa sawit di Indonesia berada di Pulau Sumatera yang mencakup 74,87% kemudian diikuti Kalimantan dan Sulawesi, masing-masing 21,35% dan 2,4%. Riau merupakan penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia. Pada tahun 2009 produksi kelapa sawit Riau telah mencapai 24% dari produksi nasional kemudian diikuti Jambi dengan produksi mencapai 7,7 persen dari produksi nasional.
Selain itu, saat ini terjadi pergeseran kepemilikan perkebunan kelapa sawit. Semula lahan kelapa sawit hanya dipegang oleh perkebunan besar tetapi sekarang telah mencakup perkebunan rakyat dan swasta.
Data dari Direktorat Jenderal Perkebunan (2005) menunjukkan luas areal perkebunan rakyat (PR) mencapai 2.202 ribu ha (40,44%), perkebunan besar negara (PBN) 630 ribu ha (11,56%), dan perkebunan besar swasta (PBS) 2.613 ribu ha (47,98%). Pada tahun 2009 komposisi kepemilikan perkebunan kelapa sawit tersebut sedikit mengalami perubahan dimana PBS mencapai 47,81 persen, PR 43,76 persen, dan PBN 8,43 persen. Sejalan dengan perkembangan lahan kelapa sawit Indonesia, produksi pun mengalami peningkatan. Jika pada tahun 1968 produksi minyak sawit hanya 181 ribu ton, maka pada tahun 2005 produksi nasional telah mencapai 12,45 juta ton. Meskipun angka produksi yang meningkat tajam, produktivitas lahan kelapa sawit masih rendah bila dibandingkan Malaysia. Kesesuaian lahan menjadi salah satu faktor. Pulau Sumatera merupakan wilayah dengan produktivitas lahan kelapa sawit tertinggi bila dibandingkan Kalimantan dan Sulawesi. Secara pengusahaan, tingkat produktivitas PR sekitar 2,86 ton CPO/ha atau setara 13,61 ton tandan buah segar (TBS)/ha, PBN 3,57 ton CPO/ha atau setara 16,98 ton TBS/ha, dan PBS 3,51 ton CPO/ha atau sekitar 16,69 ton TBS/ha. Pada tahun 2009, Indonesia mampu berada di urutan pertama dunia sebagai negara produsen minyak sawit dengan jumlah produksi diperkirakan mencapai 20,6 juta ton, kemudian diikuti oleh Malaysia berada di urutan kedua dengan produksi mencapai 17,57 juta ton.
Porsi produksi minyak sawit Indonesia dan Malaysia tersebut mencapai 85% dari produksi total dunia yang sebesar 45,1 juta ton. Sebagian besar produksi minyak Sawit Indonesia merupakan komoditas ekspor dengan porsi mencapai 80 persen total produksi domestik di tahun 2008. Negara utama tujuan ekspor minyak sawit Indonesia adalah India (33 persen) kemudian diikuti Cina (13 persen) dan Belanda (9%) (Oil World 2010). Disamping CPO, minyak inti sawit merupakan hasil bernilai tinggi dari perkebunan kelapa sawit.
Pada tahun 2005 produksi minyak inti sawit mencapai 2,5 juta ton. Untuk mendapatkan kelapa sawit dengan produktivitas tinggi, PR, PBN, dan PBS harus menggunakan benih kelapa sawit yang berkualitas. Saat ini salah satu sumber benih kelapa sawit tergabung dalam Forum Komunikasi Produsen Benih Kelapa Sawit yang anggota-anggotanya adalah PPKS, PT. Socfin, PT Lonsum, PT. Dami Mas, PT Tunggal Yunus, PT Bina Sawit Makmur, dan PT Tania Selatan. Masing-masing produsen benih tersebut secara berurutan mampu memproduksi 35 juta, 35 juta, 15 juta, 12 juta, 12 juta, 25 juta, dan 2 juta kecambah kelapa sawit sehingga totalnya mencapai 136 juta per tahun.

Dari sisi ketenagakerjaan, perkebunan kelapa sawit mampu menyerap tenaga kerja relatif besar. Pada tahun 2008 terdapat 3,25 juta orang bekerja di perkebunan kelapa sawit, lalu meningkat menjadi tipis menjadi 3,28 juta orang pada 2009 dan 3,38 juta orang pada 2010. Pada tahun 2011 dan 2012 diperkirakan jumlah orang yang bekerja di perkebunan kelapa sawit meningkat menjadi masing-masing 3,42 juta orang dan 3,7 juta orang (Ditjen Perkebunan, 2012).


Sumber: https://civitas.uns.ac.id/kasiono/seva-mobil-bekas/