Perkembangan politik dan pemerintahan pada masa dinasti umayyah

Perkembangan politik dan pemerintahan pada masa dinasti umayyah

Perkembangan politik dan pemerintahan pada masa dinasti umayyah

Perkembangan politik dan pemerintahan pada masa dinasti umayyah
Perkembangan politik dan pemerintahan pada masa dinasti umayyah

Bisa dikatakan bahwa puncak kejayaan islam berada pada masa dinasti umayyah setidaknya dtunjukkan dengan luasnya wilayah kekuasaanya. Selain itu juga pekembangan kebudayaannya, tetapi pada masa dinasti umayyah tidak semua pemimpin yang berkuasa mampu mempertahankan kemegahan tersebtu, sebagaimana banyak di alami oleh bangsa-bangsa di dunia. Hal itu mangandung arti bahwa dinasti umayyah juga mengalami masa keemasan dan masa suram.

Perkembangan politik dan pemerintahan pada masa dinasti umayyah

Sebagaimana telah kita ketahui bersama ketika khalifah ali bin abi thalib berkuasa, keadaan kaum muslimin terjadi perpecahan umat sehingga timbul kelompok-kelompok atau golongan yang masing-masing bersikukuh merasa memiliki hak berkuasa. Sejarah bergulir terus hingga kedudukan pemimpin tertinggi ummat islam dipegang oleh muawiyah bin abi sofyan.

Kelompok atau golongan yang merupakan kekuatan dengan perbedaan kepentingan tersebut ada tiga, yaitu

Golongan pendukung dinasti umayyah

Golongan pendukung dinasti umayyah ini meliputi penduduk syam (syiria), mesir dan sekitarnya. Kelompok ini berpendapat bahwa yang berhak menduduki jabatan khlaifah adalah dari bani umayyah kerena meraka sebagai keturunan bangsa quraisy

Golongan pendukung ali bin abi thalib

Golongan pendukung ini disebut kaum syiah, yaitu dari penduduk irak dan sebagian kecil penduduk mesir. Sebagaimana pendukung dinasti umayyah, kelompok ini juga berpendapat bahwa yang berhak menduduki jabatan khalifah harus berasal dari orang quraisy. Siapapun mengetahui bahwa ali bin abi thalib adalah anak asuh rasulullah saw, sehingga mereka paling berhak untuk menduduki jabatan khalifah

Golongan khawarij

Golongan khawarij merupakan sekelompok yang secara terbuka menyatakan anti kepemimpinan ali bin abi thalib dan muawiyah bin abi sofyan. Mereka berpendirian bahwa dengan adanya peristiwa tahkim maka ali bin abi thalib dan muawiyah bin abi sofyan telah keluar dari jalus islam. Menurut sekelompok ini siapa pun berhak menduduki jabatan khalifah selama memenuhi persyaratan kemampuan dan keagamaanya.

Pemerintahan pada masa dinasti umayyah menggunakan cara meiliter dan diplomasi untuk meredam pergolakan yang dilakukan oleh musuh politiknya.

Prestasi yang membanggakan adalah ketika kekuasaan di bawah pimpinan khalifah umar bin abdul aziz karena mampu menerapkan diplomasi politik yang sangat baik.

Hasil gemilang itu adalah keberhasilannya merengkuh kelompok syiah dan khawarij. Maka pada masa ke pemimpinan khalifah umar bin abdul aziz tercipta stabilitas keamanan dan politik.

Pada masa itu tidak pernah ada rombingan dan upaya pemberontakan yang menonjol dari masyarakat karena meraka merasa puas dengan pola kepemimpinan baliau.

Dalam sistem pemerintahan, dinasti umayyah membentuk lembaga-lembaga pemerintahan yang terdiri dari lima lembaga yang membidangi bagian tertentu, yaitu sebagai berikut :

Lembaga politik ( an-nizam as-siyasi )
Lembaga keuangan ( an-nizam al-mali )
Lembaga tata usaha negara ( an-nizam al –idari )
Lembaga kehakiman ( an-nizam al-qodai )
Lembaga ketentaraan ( an-nizam al-harbi )

Melengkapi kelima lembaga di atas juga dibentuk dewan sekretaris negara (dawanul kitabah) yang bertugas memfasilitasi segala urusan pemerintahan. Di wanul kitabah terdiri dari 5 orang, yaitu sebagai berikut :

Sekretaris persuratan ( katib ar-rasail )
Sekretaris keuangan ( katib al-kharraj )
Sekretaris tentara ( katib al-jund )
Sekretaris kepolisian ( katib asy-syurtah )
Sekretaris kehakiman ( katib al-qodi )

Adapun untuk menjaga keselamatan khalifah dibentuk ajudan atau al-hijabah sebaai bagian dari protokoler. Jadi tidak sembarangan orang bisa menghadap khalifah pengalaman masa lalu yang sering terjadi pembunuhan terhadapa khalifah. Hal itu menunjukkan bahwa sistem politik dan pemerintahan pada masa dinasti umayyah mulai tersusun dan tertata rapi.

Di bindang militer, di bentuk lembaga ketentaraan – pembentukkan di bindang militer ini termasuk salah satu strategi untuk memperkuat posisi khalifah dari dinasti umayyah.

Dari sisi aliran politik , tampak bahwa para khalifah dari dinasti umayyah menganut aliran politik ekspansionis atau politik ekspansi perluasan kekuasaan wilayah, maka wajar apabila ekspansionis atau politik ekspansi perluasan kekuasaan wilayah.maka wajar apabila memerlukan kekuaan militer yang solid

Untuk meciptakan kekuatan milter yang solid harus didukung oleh lembaga keuangan, tugas dari lembaga keuangan ini adalah mengatur keuangan negara terutama mangambil kabijakan anggaran militer. Dukungan lain untuk menciptakan militer yang kuat dilakukan upaya sinergis di dalam wilayah dewan sekretaris negara, maka didalamnya ada sekretaris negara yang membidangi kemiliteran, yaitu sekretaris tentara kepolisian.

Beberapa unsur yang dipadukan dengan sangat baik itu maka para khalifah dinasti umayyah dapat menggulangi berbagai bentuk gangguan dan ancaman dari kelompok yang bersebarangan. Gangguan dan ancaman yang pernah terjadi misalnya pemberontakan husein bin ali, pemberontakan muhata dan pemberontakan abdullah bi zubair

Husein bin ali mengadakan pemberontakan pada tahun 680 M di kuffah dalam sebuah pertempuran di karbala. Hingga kini karbala menjadi tempat renungan kaum muslimin syiah untuk berjiarah ke makam husein bin ali.

Muhtar juga memberontak di kuffah lima tahun berikutnya, yaitu tahun 685 M, pemberontakan ini sebagai kelanjutan dari pemberontakan yang dilakukan oleh husein bin ali

Abdullah bin zubair memberontak pada tahun 692 M di mekkah.

Setelah mampu meredam pemberontakan – pemberontakan , maka semakin terbuka kesempatan bagi bani umayyah untuk memperluas wilayah. Dinasti umayyah mampu menguasi wilayah –wilyah yang meliputi afrika utara, spanyol, suriah, palestina, jazirah arab, irak, asia kecil, persia, afganistan, pakistan, dan turkistan. Keberhasilan menguasai berbagai wilayah yang sangat luas itu merupakan prestasi gemilang sepanjang sejarah islam.

Pembentukkan berbagai lembaga pemerintahan dalam upaya memperbaiki sistem politk dan pemerintahan pada masa dinasti umayyah ini berdampak postif pada kesejahteraan masyarakat. Dampak yang dirasakan lansung oleh rakyad adalah dengan adanya lembaga keuangan negara ( an-nizam al-mali ).

Tugas utama dari an-nizam al-mali, adalah sebagai berikut :

Mengatur gaji tentara dan pegawai negara
Mengatur anggaran tata usaha negara
Mengatur anggaran pembanguan sarana pertanian
Mengatur anggaranuntuk orang-orang hukuman dan tawanan perang
Mengatur anggaran perlengakapan perang
Mengatur hadiah-hadiah untuk ulama dan sastrawan negara
Hasil nya dari bentuknya an-nizam al-mali adalah kempuan pemerintahan mendirikan panti bagi orang jumpo dan anak yatim.
Pemerintahan berhasil pula membangun berbagai sarana . Misalnya masjid – masjid, jalan, dan saluran air.

Untuk memperkuat bidang hukum peradilan, dibentuk sebuah lembaga kehakiman ( an-nizam al-qodai ) sehingga seluruh masyarakat memperolah kepastian hukum dan perlindungan hukum. An-nizam al-qodai dipimpin oleh seorang hakim untuk memutuskan suatu perkara dengan ijtihad berdasrkan al-quran dan hadis .

Dampak positif dari keberadaan an-nizam al-qodai adalah semakin berkembangmya berbagai bidang yang lain, misalnya kebudayaan yang meliputi bahasa, seni dan sastra.

Baca juga: