PERTEMPURAN BANDUNG LAUTAN API

 PERTEMPURAN BANDUNG LAUTAN API

 PERTEMPURAN BANDUNG LAUTAN API PERTEMPURAN BANDUNG LAUTAN API

     Sekutu (Inggris) memasuki kota Bandung sejak pertengahan bulan Oktober 1945. November 1945, NICA semakin merajalela di Bandung. Jebolnya bendungan sungai Cikapundung pada malam hari tanggal 25 November 1945 ditengah-tengah situasi panas akibat akan dibelahnya Bandung menjadi 2, yaitu pasukan sekutu daerah Bandung Utara dan bagian Selatan daerah RI, menimbulkan bencana banjir besar dalam kota.

     Sesuai garis politik diplomasi pihak RI mengosongkan Bandung utara. Tetapi, akibat sekutu menuntut pengosongan sejauh 11 km, dari Bandung Selatan meletus pertempuran dan aksi bumi hangus disegenap penjuru kota. Tanggal 23 dan 24 Maret 1946 penduduk meninggalkan Bandung yang telah menjadi lautan api. Peristiwa ini diabadikan dalam lagu “ Halo-halo Bandung”. Tokoh pertempuran Bandung ini antara lain Aruji Kartawinata, Pemuda Sutoko, Nawawi Alib, Kolonel Hidayat, Otto Iskandardinata, Kolonel A.H Nasution (Panglima Divisi III Jawa Barat).

     Sementara itu, benteng NICA di Dayeuh Kolot, Bandung Selatan dikepung pejuang Bandung sebagai taktik menghancurkan daerah itu. Lalu, muncul pemuda Toha yang siap berjibaku menghancurkan gudang mesiu NICA dan membawa alat peledak.

(I Wayan Badrika, 2003, hal 254-255)

  1. PERTEMPURAN 5 HARI DI SEMARANG

     Tanggal 15 – 20 Oktober 1945 antara pasukan TKR dengan pasukan Jepang (Pimpinan Mayor Kido) terjadi pertempuran ini. Diawali oleh Jepang meracuni sumber air minum di daerah Candi Semarang. Ketika dr. Karyadi, Kepala Laboratorium Rumah Sakit Semarang, akan memeriksa sumber air ternyata dihalangi Jepang dan ditembak mati.

(Tim MGMP Sejarah Kota Surakarta, hal 41)

  1. PERTEMPURAN DI SUMATERA

     Disebabkan kebencian masyarakat atas kedatangan Sekutu dengan NICA. Di Aceh, rakyat bersama TKR dibawah pimpinan Teuku Nyak Arief mengadakan perlawanan. Pertempuran juga terjadi di Padang dan Bukit Tinggi.

(Tim MGMP Sejarah Kota Surakarta, hal 42)

  1. PERANG PUPUTAN BALI

     Dipimpin I Gusti Ngurah Rai dengan pasukannya Ciung Wanara. Dimulai bulan April 1946 Denpasar. Akibat keterbatasan senjata mereka terdesak dan bertahan di Desa Marga. Di daerah ini, Ngurah Rai mengadakan perang habis-habisan atau Puputan. Perang ini juga disebut Pertempuran Margarana (18 November 1946).

(Tim MGMP Sejarah Kota Surakarta, hal 42)

 

POS-POS TERBARU