Sejarah Berdirinya Bani Abbasiyah

Sejarah Berdirinya Bani Abbasiyah

Sejarah Berdirinya Bani Abbasiyah

Sejarah Berdirinya Bani Abbasiyah
Sejarah Berdirinya Bani Abbasiyah

Sejarah Bani Abbasiyah

didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas merupakan kelanjutan pemerintahan Bani Umayyah yang hancur di Damaskus. Dinamakan kekhalifan Bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini merupakan keturunan Bani Abbas, paman Nabi Muhammad SAW.[1]
Zaman ini adalah zaman keemasan umat islam. Dimana umat islam mencapai kejayaan, kekayaan, kekuasaan, dan lain sebagainya. Zaman ini juga adalah puncak kemajuan dan kekuasaan umat islam. Terutama pada masa khalifah Harun ar-Rosyid.[2]

Kemajuan-Kemajuan pada Masa Bani Abbasiyah

Umat islam sesungguhnya telah banyak dipacu untuk mengembangkan dan memberikan inovasi serta kreativitas dalam upaya membawa umat kepada keutuhan dan kesempurnaan hidup. Dari perjalanan dan rentang sejarah, ternyata pergantian dinasti ummayah kepada dinasti abbasiyah tidak hanya pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, pergantian tersebut telah menorehkan wajah dunia islam dalam refleksi pengembangan wawasan dan disiplin ilmu pengetahuan. Dimana peningkatan itu sempat menjadi kiblat bagi perkembangan keilmuan dunia pada saat itu.

1. Kemajuan di bidang keagamaan

Ilmu pengetahuan agama telah berkembang pada masa daulah bani ummayah. Namun pada masa dinasti abbasiyah, ia mengalami perkembangan dan kemajuan yang luar biasa. Masa ini melahirkan ulama-ulama besar ternama dan karya-karya agung dalam berbagai bidang ilmu agama. Misalnya dalam bidang ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kalam, dan ilmu fiqih.[3]

a. ilmu tafsir

Pada masa abbasiyah ini, ilmu tafsir mengakami perkembangan yang sangat pesat dengan dilakukannya penafsiran secara sistematis , berangkai dan menyeluruh serta terpisah dari hadis. Dan pada masa ini pula muncul beberapa lairan dengan tafsirnya masing-masing, seperti ahlu sunnah, syi’ah, dan mu’tazilah.
Ahli tafsir yang terkenal pada bidang tafsir bi al-ma’tsur masa ini adalah al-Subhi (w. 127 H), Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H). Sedangkan dari tafsir bi a- ra’yiyang sebagian dipelopori oleh golongan mu’tazilah adalah Abu Bakar al-‘Asham (w. 240 H) dan Ibnu Jarwi al-’Asadi (w. 387 H).

b. ilmu hadis

Pada masa daulah bani abbasiyah, kegiatan dalam bidang pengkodifikasian hadis dilakukan pula dengan giat sebagai kelanjutan dari usaha para ulama sebelumnya. Perlu diketahui bahwa pengkodifikasian hadis sebelum masa abbasiyah dilakukan tanpa mengadakan penyaringan, sehingga bercampur antara hadis nabi saw. dan yang bukan nabi saw. Berkenaan dengan kaeutamaan hadis sebagai sumber kedua setelah al quran.Maka para ulama islam pada masa abbasiyah ini berusaha semaksimal mungkin menyaring hadist-hadist rasululah agar diterima sebagai sumber hukum.
Para ulama hadis yang terkenal pada masa ini adalah Imam Bukhari (w. 256 H), dengan bukunya Shahih Bukhari. Kemudian Abu Muslim (w. 261 H) berasal dari nisabur dengan karyanya Shahih Muslim. Kemudian Ibnu Majah (w. 273 H), AbuDawud (w. 275 H), Turmudzi (w. 279 H) dan an-Nasa’I (w. 303 H). Karya-karya mereka dikenal dengan nama Kutubu al Sittah.[4]

c. ilmu kalam

Pada masa ini muncul ulama-ulama besar di bidang ilmu kalam, baik dari kalangan mu’tazilah maupun ahlusunnah waljama’ah. Dari kalangan mu’tazilah dikenal antara lain Abu Huzail al-Allaf (w. 235 H), al-Junnaj (w. 290 H0, al-Jahiz (w. 255 H), al-Nizam (w. 231 H). Sedangkan dari golongan ahlu sunnah wal jama’ah ada alsy’ari (w. 234 H), al-Baqillani (w. 497 H), al-Ghazali (w. 505 H) dan al-Maturudi (w. 333 H).Pengembangan ilmu kalam pada masa ini mempunyai peran yan cukup besar yaitu dalam menjaga akidah islam dengan menggunakan argumentasi manthiq dan filosofi rasional.

d. ilmu fiqh

Diantara kebanggaan zaman pemerintahan daulah bani abbasiyah adalah terdapatnya empat imam madzhab yang ulung ketika itu. Yang mereka itu adalah, imamSyafi’I, imam Malik, imam Abu Hanifah, dan imam Ahmad bin Hambal. Keempat imam madzhab tersebut dengan karya-karya mereka merupakan para ulama fikih yang paling agung dan tiada bandingannya di dunia islam waktu itu, bahkan sampai sekarang.

Baca Juga: