Sekilas tentang Sejarah Penerjemahan al-Qur`an di Indonesia

Sekilas tentang Sejarah Penerjemahan al-Qur`an di Indonesia

Sekilas tentang Sejarah Penerjemahan al-Qur`an di Indonesia

Sekilas tentang Sejarah Penerjemahan al-Qur`an di Indonesia

Al-Qur`an telah diterjemahkan pada pertengahan abad ke XVII oleh ‘Abd al-Ra`ūf al-Sinkīlī[1] ke dalam bahasa Melayu. Walaupun terjemahan ini hanya ditinjau dari sudut pandang ilmu bahasa Indonesia modern yang belum sempurna, tetapi pekerjaan ini mampu memberikan kontribusi besar terhadap rintisan awal terjemahan di Indonesia.

Sejak akhir tahun 1920-an dan seterusnya, mulai bemunculan sejumlah terjemahan al-Qur`an, baik dalam bentuk juz per juz, maupun seluruh isi al-Qur`an. Dan usaha ini di dukung oleh gerakan nasional yang disebut dengan “sumpah pemuda” pada tahun 1928.

Pada tahun 1938, Maḥmūd Yūnus menerbitkan Tarjamah al-Qur`an al-Karīm, yang telah dimulai pada tahun 1924. Ini merupakan karya pertama yang dapat diakses dalam bahasa Melayu untuk keseluruhan ayat al-Qur`an, sejak karya ‘Abd al-Ra`ūf al-Sinkīlī (Tarjumān al-Mustafid) yang muncul sekitar tiga abad sebelumnya.[2]

Proses terjemahan tersebut semakin cepat setelah Indonesia meraih kemerdekaan pada tahun 1945. Ada beberapa terjemahan al-Qur`an, salah satunya adalah al-Qur`an dan Terjemahnya, yang dicetak pertama kali pada tahun 1970.[3] Karya ini telah dicetak ulang beberapa kali, termasuk perubahan dalam ejaan bahasa Indonesia. Teks Arab dan Indonesia dicetak berdampingan, sementara penjelasan dan catatan ditulis dalam footnote.[4]

Melihat fenomena tersebut, pemerintah Republik Indonesia menaruh perhatian besar terhadap terjemahan al-Qur`an. Hal ini terbukti bahwa penerjemahan al-Qur`an termasuk dalam pola I Pembangunan Semesta Berencana, sesuai dengan keputusan MPR. Untuk merealisasikan pekerjaan ini, Menteri Agama telah membentuk Sebuah instansi yang diketuai oleh Prof. R.H.A. Soenarjo, S. H. (mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), yang beranggotakan ulama-ulama dan sarja-sarjana Islam yang mempunyai keahlian dalam bidangnya masing-masing.

Setelah adanya dukungan dari Menteri Agama Republik Indonesia di Arab Saudi, akhirnya karya terjemahan tersebut memiliki status de facto sebagai terjemahan al-Qur`an berbahasa Indonesia. The King Fahd Complex for the Printing of the Holy Qur`an mencetak ulang terjemahan tersebut dengan format yang bagus, dan diberikan kepada para jamaah haji Indonesia dan segenap pengunjung Tanah Haram.[5]

Atas masukan dan saran masyarakat, dan Pendapat Musyawarah Kerja Ulama al-Qur`an ke XV (23-25 Maret 1989), terjemahan al-Qur`an tersebut disempurnakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama bersama Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur`an.

Adapun di antara terjemahan-terjemahan al-Qur`an ke dalam bahasa Indonesia adalah terjemahan yang dilakukan oleh Kemajuan Islam Yogyakarta; Qur`an Kejawen dan Qur`an Sundawiyah; penerbit-penerbit percetakan A.B. Sitti Syamsiah Solo, di antaranya tafsir Hidāyah al-Raḥman oleh K.H. Munawar Chalil; tafsir Qur`an Indonesia oleh Mahmud Yunus (1935), al-Furqān oleh A. Hasan Bandung (1928); dan lain sebagainya.

  1. Sejarah Penulisan Terjemahan al-Qur`an Departemen Agama Edisi Pertama

Terjemah al-Qur`an Departemen Agama adalah sebuah karya tim para ulama dan cendekiawan Indonesia. Tim ini terbentuk berdasarkan SK Menteri Agama No. 90 tahun 1972. Kemudian terbit lagi KMA No. 8 tahun 1973 yang berfungsi untuk menyempurnakan KMA 1972. Tim ini yang kemudian dinamakan sebagai Dewan Penyelenggara Tafsir al-Qur`an yang diketuai oleh Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H. dengan anggota yang terdiri dari 10 oran

 

sumer :