Syarat-syarat Nasikh dan Mansukh

Syarat-syarat Nasikh dan Mansukh

  1. Hukum yang dinasakhkan harus berupa hukum syarak, bukan hukum lain, seperti hukum akal atau hukum buatan manusia.
  2. Dalil yang digunakan untuk mengangkatkan hukum itu ialah dalil syara` yang datangnya kemudian dari teks yang dimansukhkan hukumnya.
  3. Dalil/ ketentuan nasikh harus terpisah dengan dalil/ ketentuan mansukhnya.
  4. Dalil nasikh harus lebih kuat atau sama kuat daripada dalil mansukh.
  5. Adanya dalil baru yang menghapus itu harus setelah ada tenggang waktu dari dalil hukum yang pertama.
  6. Antara dua dalil nasikh dan mansukh atau dalil I dan dalil II yaitu harus ada pertentangan yang nyata.

Disamping itu masih ada syarat-syarat Nasakh yang belum disepakati yakni:

  1. Nasakh dan mansukh tidak sejenis.
  2. Adanya hukum baru sebagai hukum yang dinasakhkan.
  3. Hukum pengganti lebih berat daripada hukum yang diganti.
  4. Cara mengetahui Naskh dan Mansukh

Ada tiga cara untuk mengetahui ketentuan dalil yang datang duluan atau kemudian, yaitu sebagai berikut:

  1. Dalam salah satu dalil nashnya harus ada yang menentukan datangnya lebih belakangan dari dalil yang lain.
  2. Harus ada kesepakatan (ijmak) dalam suatu masa dari sepanjang waktu yang menetapkan, bahwa salah satu dari dua dalil itu datang lebih dahulu dan yang lain datang kemudian.
  3. Harus ada riwayat shahih dari salah seorang sahabat yang menentukan mana yang lebih dahulu dari kedua dalil nash yang saling bertentangan tadi.

3 Beberapa pandangan terhadap Naskh

Pendapat para ulama tentang Nasakh dan dalilnya

Hukum-hukum Allah itu datang bergantian kepada Rasul-Nya untuk memperbaiki kehidupan manusia di bidang akidah dan muamalah. Khusus dalam bidang akidah, hukum-hukum syariat itu tetap tidak mengalami perubahan. Sebab, hukum akidah itu selau berdasar atas ketauhidan. Hal ini sesuai firman Allah dalam surat Al Anbiya ayat 25:

Artinya:

“ Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku oleh kalian.”(Q.S Al Anbiya: 25)

Dilingkungan para ulama dari berbagai agama, ada berbagai pendapat mengenai nasakh diantaranya:

  1. Masalah nasakh tersebut, secara akal bisa terjadi dan secara sami’ talah terjadi. Pendapat ini merupakan ijmak kaum muslimin/ jumhur ulama, sebab munculnya Abu Muslimin Al-Ashfihani (wafat 322 M) dan orang-orang yang sepaham dengan dia. Pendapat ini juga mempunyai pendirian dari ijmak kaum nasrani sebelum abad ini, yang telah mengubah ijmak mereka. Pendapat ini juga mempunyai pendirian dari kaum’Ausiwyah’ yaitu sekelompok dari golongan Yahudi.

sumber

https://thesrirachacookbook.com/seva-mobil-bekas/