Tiga Tahap Kewajiban Puasa

Tiga Tahap Kewajiban Puasa

Tiga Tahap Kewajiban Puasa

Tiga Tahap Kewajiban Puasa
Tiga Tahap Kewajiban Puasa

Tahap Pertama: Awal Kewajiban Puasa Ramadhan

Ayat ini turun pada tahun kedua setelah Hijrah. Dengan demikian, Nabi SAW mengalami sembilan kali bulan Ramadhan. Dari sembilan Ramadhan ini hanya satu yang berjumlah sempurna 30 hari, selainnya berjumlah 29 hari.

Sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi SAW dan para sahabat berpuasa tiga hari setiap bulan ditambah dengan puasa ‘Asyura sesuai adat umat terdahulu. Dikatakan bahwa umat terdahulu diwajibkan berpuasa tiga hari setiap bulan sejak masa Nabi Nuh as. Ketika datang ayat ini, Nabi SAW mengatakan mengenai puasa ‘Asyura:
Siapa yang mau, berpuasalah. Dan siapa yang mau, berbukalah. (HR Bukhari)

Sahabat Ibnu Mas’ud mengisahkan, “Dahulu kami berpuasa di bulan Asyura kemudian ketika turun (ayat yang mewajibkan puasa) Ramadhan, kami tidak lagi diperintahkan dan tidak pula dilarang, namun kami melakukannya.” (HR Nasa’i)

Ini menunjukkan bahwa puasa Asyura hukumnya wajib sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Kemudian kewajiban ini dihapus. Ini juga menguatkan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa puasa Ramadhan tidak diwajibkan atas umat terdahulu. Jika umat terdahulu diwajibkan berpuasa Ramadhan, pasti Rasulullah SAW sejak awal sudah berpuasa Ramadhan dan tidak mewajibkan puasa Asyura terlebih dahulu.

Allah juga menjelaskan ukuran puasa. Puasa tidak diwajibkan setiap hari agar tidak memberatkan pelakunya dan menjadi lemah untuk mengembannya. Namun puasa diwajibkan pada :
(Yaitu) dalam beberapa hari tertentu. (QS al Baqarah: 184)

Yakni pada bulan Ramadhan saja. Kemudian Allah menjelaskan hukum puasa Ramadhan pada masa awal Islam:
Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS al Baqarah: 184)

Tahap kedua: Kewajiban Puasa Secara Umum

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,…(QS al Baqarah: 185)

Kata-kata faman syahida minkumusy syahro falyashumhu (Barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu) dimaksudkan sebagai perintah berpuasa bagi orang yang tidak bepergian dan sehat ketika memasuki bulan Ramadhan. Ayat ini menghapus dibolehkannya memilih antara membayar fidyah dan berpuasa untuk orang yang sehat dan tidak bepergian seperti tercantum di ayat sebelumnya. Dengan ayat ini, maka fidyah hanya dibolehkan bagi orang tua yang sudah tidak lagi mampu berpuasa. Ketika puasa dijadikan kewajiban secara umum, maka penjelasan keringanan bagi orang yang sakit dan bepergian kembali diulang:
Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. al-Baqarah: 185)

Ini berarti bahwa siapa yang menderita suatu penyakit yang menyulitkannya untuk berpuasa atau sedang dalam bepergian, maka ia boleh tidak berpuasa. Jika tidak berpuasa, ia wajib menggantinya di hari lain. Allah memberikan keringanan untuk tidak berpuasa untuk memudahkan dan sebagai bentuk rahmat-Nya kepada manusia.

Wanita yang sedang menyusui atau hamil dan khawatir terhadap kesehatannya dan kesehatan anaknya, dihukumi sama dengan orang yang sakit dalam hal berpuasa. Ia boleh tidak puasa untuk kemudian menggantinya di hari lain. Orang tua yang tidak mampu lagi berpuasa, boleh tidak berpuasa tanpa perlu menggantinya. Namun ia wajib membayar fidyah setiap hari. Diriwayatkan bahwa di akhir umurnya, Sahabat Anas r.a. tidak lagi mampu berpuasa dan membayar fidyah kepada orang miskin selama satu atau dua tahun.

Para ulama salaf berselisih mengenai ukuran sakit yang membolehkan untuk berbuka. Menurut jumhur ulama, itu adalah penyakit yang membolehkan bertayamum ketika air ada. Yakni jika ia takut akan jiwa, atau anggota tubuhnya, atau takut bertambah sakit, atau bertambah lama sakitnya. Sebagian lain mengatakan, apabila ia tidak mampu shalat berdiri, maka boleh tidak puasa.

Tahap Ketiga: Kebolehan Makan dan Minum Sampai Pagi

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. (QS al Baqarah: 187).

Pada permulaan datangnya Islam, ketika telah datang waktu berbuka, maka orang-orang dibolehkan untuk makan, minum dan berhubungan seksual sampai melakukan shalat Isya’ atau tidur sebelum itu. Jika mereka telah melakukan shalat Isya’ atau tidur, maka diharamkan atas mereka untuk makan, minum dan berhubungan suami istri sampai datangnya Maghrib di hari berikutnya. Para sahabat menjalani puasa dengan sangat payah. Dan memang demikianlah puasa umat sebelum Islam.

Demikianlah kewajiban puasa diwajibkan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah kebolehan memilih antara membayar fidyah dan berpuasa. Tahap kedua adalah penghapusan kebolehan memilih dan kewajiban berpuasa secara umum dengan batas berbuka sampai melakukan Shalat Isya, atau tertidur sebelumnya. Tahap terakhir adalah kebolehan untuk berbuka sampai terbitnya fajar. Alhamdulillah, syukur kepada Allah yang telah menyempurnakan syariat berpuasa bagi kita dengan syariat yang mudah dan penuh rahmat.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/