Tingkatan Maslahah al-Mursalah

Tingkatan Maslahah al-Mursilah

Tingkatan Maslahah al-Mursilah

Tingkatan Maslahah al-Mursalah

Ditinjau dari segi kepentingan dan kualitas maslahah bagi kehidupan manusia, ahli ushul fikih membagi maslahah kepada tiga tingkatan.

  1. Al-Maslahah al-dharuriyat

         Kemaslahatan al-dharuriyat adalah suatu kemaslahatan yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia di dunia dan akhirat. Dengan pentingnya kemaslahatan ini, apabila luput dalam kehidupan manusia akan terjadi kehancuran, bencana dan kerusakan terhadap tatanan kehidupan manusia. Kemaslahatan ini meliputi agama, diri, akal, keturunan dan harta.

  1. Al-Maslahah al-hajiyat

         Kemaslahatan al-hajiyat adalah suatu kemaslahatan yang dibutuhkan manusia untuk menyempurnakan kemaslahatan pokok mereka dan emnghilangkan kesulitan yang dihadapi. Termasuk kemaslahatan ini semua ketentuan hukum yang mendatangkan keringanan bagi manusia dalam kehidupannya. Bentuk keringanan dalam ibadah, tampak dari kebolehan meringkas (qashar) sholat dan berbuka puasa bagi orang yang musafir. Dalam muamalat, keringanan ini terwujud dengan dibolehkan berburu binatang halal, memakan-makanan yang baik, dibolehkan melakukan jual beli salam (buy’ salam), kerjasama pertanian (muzara’ah) dan perkebunan (musaqqah). Semua kegiatan ini disyariatkan Allah guna memudahkan manusia dalam kehidupan dan sekaligus mendukung perwujudan kemaslahatan pokok yang diatas.

  1. Al-Maslahah al-tahsiniyat

         Kemashalatan al-tahsiniyat adalah suatu kemaslahatan yang sifatnya pelengkap dan keluasan terhadap kemaslahatan dhariruyat dan hajiyat. Kemasalahatan ini dimaksud untuk kebaikan dan kebagusan budi pekerti. Kemaslahatan ini tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan, tidaklah sampai menimbulkan kegoncangan dan kerusakan terhadap tatanan kehidupan manusia. Meskipun demikian, kemaslahatan ini tetap penting dan dibutuhkan manusia. Misalnya, dalam ibadah, keharusan bersuci, menutup aurat dan memakai pakaian yang lebih indah dan bagus. Contoh kemaslahatan ini dalam adat, adanya adab dan tata cara makan dan kebiasan membersihkan diri.

        Dari ketiga tindakan kemaslahatan ini yang perlu diperhatikan seorang muslim adalah kualitas dan tingkat kepentingan kemaslahatan itu sehingga dapat ditentukan kemaslahatan yang harus dipriotasikan terlebih dahulu. Kemaslahatan dhariruyat harus lebih dahulukan dari hajiyat dan kemaslahtan hajiyat harus lebih didahulukan dari tahsiniyat.

 Dilihat dari segi kandungan maslahah, para ulama fikih membaginya kepada:

  1. Maslahah al-‘Ammah yaitu kemaslahatan umum yang menyangkut kepentingan orang banyak. Kemaslahatan umum itu tidak berarti untuk kepentingan semua orang, tetapi bisa berbentik berbagai kepentingan mayoritas umat. Misalnya para ulama membolehkan membunuh penyebar bid’ah yang dapat merusak ‘aqidah umat, karena menyangkut kepentingan orang banyak.
  2. Maslahah al-Khashshah yaitu kemaslahatan pribadi dan ini sangat jarang sekali, seperti kemaslahatan yang berkaitan dengan pemutusan hubungan perkawinanseseorang yang dinyatakan hilang (maqfud).

Dilihat dari segi berubah atau tidaknya maslahah, ada dua bentuk yaitu:

  1. Maslahah al-Tsabitah yaitu kemaslahatan yang bersifat tetap, tidak berubah sampai akhir zaman. Misalnya, berbagai kewajiban ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.
  2. Maslahah al-Mutaghayyirah yaitu kemaslahatan yang berubah-ubah sesuai dengan perbuatan tempat, waktu, dan subjek hukum. Kemaslahatan seperti ini berkaitan dengan permaslahan mu’amalah dan adat kebiasaan, seperti dalam masalah makanan yang berbeda-beda antara satu daerah dengan dareah lainnya.

Dilihat dari keberadaan maslahah terbagi kepada:

  1. Maslahah al-Mu’tabarah yaitu kemaslahatan yang didukung oleh syara’. Maksudnya, adanya dalil khusus yang menjadi dasar bentuk dan jenis kemaslahatan tersebeut. Misalnya, hukuman atas orang yang meminun-minuman keras dalam hadist Rasulullah saw. Dipahami secara berlainan oleh ulama fikih, disebabkan perbedaan alat pemukul yang digunakan Rasulullah saw.ketika melakukan hukuman bagi orang yang minum-minuman keras.
  2. Maslahah al-Mulghah yaitu kemaslahatan yang ditolak oleh syara’, karena bertentangan dengan ketentuan syara’. Misalnya, syara’ menentukan bahwa orang yang melakukan hubungan seksual disiang hari bulan Ramadhan dikenakan hukuman dengan memerdekakan budak, atau puasa dua bulan berturut-turut, atau member makan 60 orang kafir miskin. Al-Laits ibn Sa’ad menetapkan hukuman puasa dua bulan berturut-turut bagi seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan istrinya disiang hari bulan Rammadhan. Para ulama memandang hukum ini bertentangan dengan hadist Rasulullah diatas, karena bentuk-bentuk  hukuman itu harus ditetapkan secara berturut-turut. Apabila tidak mampu memerdekakan budak, baru dikenakan hukuman puasa dua bulan berturut-turut. Oleh karena itu, para ulama ushul fikih memandang mendahulukan hukaman puasa berturut-turut dari memerdekakan budak merupakan kemaslahatan yang bertentangan dengankehendak syara’, hukumnya batal.
  3. Maslahah al-Mursilah yaitu kemaslahatan yang keberadaannya tidak dikung syara’ dan tidak pula dibatalkan atau ditolak syara’ melalui dalil yang rinci.

Sumber: https://urbanescapesusa.com/gunner-battle-commando-attack-apk/